Beginikah Hasil Ilmu Matematika Itu?

Saya bertanya-tanya; kenapa anak SD ketika pertama kali belajar matematika, pelajaran yang mereka dapatkan adalah tambah-menambah lebih dulu? Kenapa tidak kurang, bagi atau kali? Biasanya, habis tambahan, maka akan masuk ke wilayah pengurangan, selanjutnya perkalian dan pembagian.

Adakah dampak urutan tersebut bagi kebiasaan hidup anak-anak ketika dewasa kelak? Baiklah, saya akan tunjukkan contoh sederhana dari ke empat urutan tersebut secara struktural.

Pertama soal tambahan.
Sederhananya; Jika seorang anak diberi 1apel, agar menjadi 3apel berarti dia harus menambah dua apel lagi. Coba kita lihat kondisi sekarang ini. Bukankah orang kebanyakan (tidak semua) cenderung untuk mendahulukan kepentingan seperti contoh sederhana tadi? Bagaimana caranya menambah apel yang cuma satu biji menjadi jutaan biji.

Kedua soal pengurangan. J
ika seorang anak memunyai 4 apel, agar menjadi 1 apel saja, maka dia harus mengurangi tiga apel miliknya. Konsep ini, saya nilai bagus dan akan bersinggungan dengan konsep pembagian yang akan saya tulis di bawah. Sayangnya, setelah pengurangan ini, anak akan bertemu dengan ilmu perkalian. Maka, soal pengurangan menjadi rawan.

Ketiga soal perkalian. Jika seorang anak memunyai 1 apel, agar menjadi 8 apel, maka dia harus mengali dengan 8 apel lainnya. Jika sebelumnya adalah konsep pengurangan; yakni mau mengurangi jatah apel miliknya untuk orang lain, dalam perkalian ini adalah; pengurangan tersebut bertujuan untuk mendapatkan apel yang tadi ia berikan sebanyak dua kali lipat. Nyatanya, konsep memberi sesuatu kepada orang lain kebanyakan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dikemudian hari. Tidak atas dasar, ikhlas.

Keempat soal pembagian. Jika seorang anak memunyai 4 apel, agar menjadi 2 apel, maka dia harus membaginya dengan dua apel juga. Artinya, terjadi proses pengurangan dari apel yang awalnya ia miliki. Entah kenapa, konsep ke empat ini membuat saya berpikir sebaiknya diajarkan lebih dulu kepada anak didik. Ajari mereka tentang berbagi apel.

Lantas adakah susunan yang terbaik dari ke empat ilmu perhitungan di atas? Jawabnya, tidak ada. Karena tujuannya mengarah moral si anak, justru alangkah baiknya jika pelajaran matematika di konsep dalam wacana persuasif. Artinya, kenapa harus menambah, kenapa harus dikurang, kenapa harus dikali, kenapa harus dibagi, semua itu di persuasikan dalam bentuk cerita yang dampaknya positif bagi pertumbuhan si anak. Aggaplah, pelajaran matematika itu tidak sekadar hitung-menghitung belaka tapi juga sebagai media komunikasi kepada anak didik. Loh, bukankah di sekolah ada pelajaran Agama yang khusus membina moral mereka?

Sebenarnya, kalau semua mata pelajaran memungkinkan untuk membina mental dan moral si anak, kenapa tidak? Justru dengan bentuk persuasif seperti itu, tanpa disadari, anak-anak merasa tidak sedang diceramahi soal baik dan buruk, salah dan benar. Bagi saya, mereka membutuhkan cerita dan itu lebih meresap ketimbang menghapal isi buku pelajaran semata.

Ceritakan kepada saya kenapa korupsi, sebutlah ‘maling-maling’ selalu meneror negeri kita? Apakah mereka dulu di SD cuma menyerap pelajaran menambah dan mengurang saja karena dinilai sangat menguntungkan bagi masa depan. Yah, kalau sudah bicara untung, mana tahaannn…

BTW: hal beginian perlu dipertanyakan gak seh?

About the Author

harie insani putra has written 49 stories on this site.

11 Comments on “Beginikah Hasil Ilmu Matematika Itu?”

  • nia wrote on 10 Oktober, 2008, 0:24

    bang hari .. mungkin waktu dulu, selain cuman hanya bisa menyerap pelajaran matematika menambah dan mengurang .. waktu pelajaran agama diajarkan, murid ybs
    ( maling-maling :red ) sedang mimpi berlayar, jadi begitu deh ..

    nia mo tanya nih, keuntungan masa depan yang dimaksudkan itu masa depan didunia apa diakhirat sih???? tks

  • warmorning wrote on 10 Oktober, 2008, 3:11

    saya alergi dengan bau-bau itung-itungan :D

  • Manusiasuper wrote on 10 Oktober, 2008, 3:37

    Makanya itu, pelajaran kita dulu itu kan belajar MENAMBAH dulu, baru MENGURANG terus MENGALIKAN baru belajar BERBAGI…

    Berbagi itu terakhir…

    Manusiasupers last blog post..Ketemuan Alumni SMAVEN 2008

  • harie insani putra wrote on 10 Oktober, 2008, 10:03

    @ Nia
    hehehe…masa depan di dunia dong…

    @ Warmorning
    Cuma alergi dengan baunya kan? tapi bukan pada itungannya….

    @Mansup
    Begitulah….

  • carbonized wrote on 10 Oktober, 2008, 16:17

    Kalau matematika logika termasuk ga?
    soalnya di matematika logika hasilnya dalam bentuk binary (seperti matrik pada computer ini)
    1+1 =0
    dan 0+0 = 1
    kalau 8:2 = 0
    nah kalau 1+2 = 0011
    untuk 1×2 = 0
    dan seterusnya…
    ?mungkin koruptor² dan maling² itu pakai metode ini?

    carbonizeds last blog post..Peri Kecil dan Panah Amor

  • yulianbjm wrote on 11 Oktober, 2008, 9:37

    heeeemmm…… salam kenal aja deh..

  • nia wrote on 15 Oktober, 2008, 2:24

    bang hariiiiiiiiiiii .. nia cuman mampirrrrrrrr .. xixixixxii, kabur lagi

  • Andra Walae wrote on 17 Oktober, 2008, 16:01

    Bang, ulun dan ndaftar d buhan kayuh baimbai

    Andra Walaes last blog post..Anatomi Praktis Abdomen

  • indahjuli wrote on 21 Oktober, 2008, 9:54

    Harie apa kabar ?
    kalau anak saya, paling susah belajar perkalian.
    Tapi ngak mungkin jadi koruptor kan :D
    indahjulis last blog post..Ibarat Buah, Saya Buah….

  • Sarah Luna wrote on 2 Desember, 2008, 3:45

    Matematika saya payahhh..!!, hehehe..

    Sarah Lunas last blog post..Hari Ini Aku Merasa Goyah..

  • Syarah wrote on 4 Desember, 2008, 5:03

    Peerluuu…. peeerrrlu bgt dipertanyakan!! mungkin jawabannya gini, dulu, Para Maling Yang Terhormat itu suka bolos waktu pelajaran Agama atau pendidikan moral,,, Heheeee:)

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2009 hariesaja | berbagi cerita. All rights reserved.
Powered by WordPress.org, Custom Theme and ComFi.com Calling Card Company.